The Problem of Other Minds
bagaimana kamu tahu orang di sekitarmu bukan sekadar robot tanpa perasaan
Pernahkah kita sedang duduk di kafe, melihat orang di meja seberang yang sedang sibuk mengaduk kopi, lalu tiba-tiba satu pikiran aneh muncul: "Bagaimana saya tahu dia benar-benar sadar seperti saya?"
Maksud saya, dia kelihatan hidup. Dia menguap, dia tersenyum saat mengecek ponsel. Tapi, bagaimana jika di dalam kepalanya benar-benar gelap dan kosong? Bagaimana jika dia cuma karakter NPC (Non-Playable Character) dalam video game realitas kita?
Kedengarannya seperti skenario film fiksi ilmiah yang kelewat absurd. Tapi percayalah, teman-teman, ini adalah salah satu misteri tertua yang bikin para ilmuwan dan filsuf susah tidur selama berabad-abad. Mereka menyebutnya The Problem of Other Minds.
Dan masalah ini, ironisnya, akan membawa kita pada fakta yang sangat mengejutkan tentang cara kerja otak kita sendiri.
Mari kita mundur sejenak ke abad ke-17. Ada seorang pemikir cerdas asal Prancis bernama René Descartes. Descartes ini tipe orang yang meragukan segalanya.
Suatu hari, ia melihat orang-orang berjalan di luar jendelanya dengan mantel tebal dan topi menutupi wajah. Descartes lalu berpikir, "Bisa saja kan mereka ini sebenarnya cuma mesin mekanik yang dipakaikan baju manusia?"
Pikiran Descartes ini, kalau kita bedah secara sains, sangat masuk akal. Satu-satunya kesadaran yang bisa kita buktikan 100 persen hanyalah kesadaran kita sendiri. Saat jari kita terjepit pintu, kita merasakan sakitnya. Tapi saat kita melihat jari orang lain terjepit, kita cuma melihat reaksi mereka—teriakan, wajah meringis, atau air mata. Kita tidak merasakannya secara langsung.
Lalu, kenapa kita dengan sangat yakin merasa bahwa orang di sebelah kita ini punya "jiwa" dan perasaan?
Jawabannya ada pada trik sulap luar biasa yang dilakukan oleh otak kita. Trik ini dalam psikologi kognitif disebut sebagai Theory of Mind. Otak manusia berevolusi untuk mahir membaca tanda-tanda fisik orang lain, lalu secara otomatis memproyeksikan kesadaran ke dalam diri mereka. Kita menebak isi kepala mereka berdasarkan apa yang kita alami.
Pertanyaannya, apakah sistem tebakan otak kita ini selalu bekerja dengan sempurna?
Di sinilah ceritanya jadi sedikit lebih gelap dan bikin penasaran. Bagaimana jika "alat pembaca jiwa" di otak kita ini mendadak rusak?
Pernahkah teman-teman mendengar tentang Capgras delusion? Ini adalah kondisi neurologis yang langka dan sangat menyedihkan. Pasien yang mengalami sindrom ini akan menatap wajah ibu atau pasangannya sendiri, dan merasa sangat yakin bahwa orang itu telah diganti oleh robot atau penipu yang mirip persis.
Secara visual, mata dan otak mereka mengenali wajah tersebut dengan sempurna. Namun, jalur kabel saraf di otak yang menghubungkan pengenalan wajah dengan rasa "kehangatan emosi" terputus. Hasilnya? Orang tercinta di depan mata mereka terasa seperti manekin tanpa jiwa.
Di sisi lain dari spektrum psikologi, kita juga mengenal anatomi otak seorang psikopat. Dalam pemindaian fMRI, otak individu dengan psikopati parah seringkali tidak menyalakan area empati saat melihat orang lain kesakitan. Bagi mereka, manusia lain benar-benar hanyalah objek mekanis. Benda yang bergerak.
Fakta-fakta ini memunculkan satu pertanyaan besar yang bikin merinding. Jika perasaan bahwa "orang lain itu hidup" ternyata cuma hasil sinyal kimiawi di otak kita yang bisa rusak kapan saja, lalu adakah bukti nyata secara sains bahwa orang lain itu benar-benar sadar?
Atau jangan-jangan, kita sebenarnya benar-benar sendirian di alam semesta ini?
Inilah jawaban hard science yang paling jujur dan mungkin terdengar dingin: Kita tidak akan pernah bisa membuktikannya secara objektif.
Secara biologis, kita terkurung di dalam ruang kedap suara bernama tengkorak. Kita tidak bisa mencolokkan kabel USB dari kepala kita ke kepala orang lain untuk mengunduh dan mengecek apakah "lampu kesadaran" mereka menyala.
Tapi, tunggu dulu. Jangan buru-buru merasa pesimis atau terjebak dalam krisis eksistensial. Alam semesta dan evolusi ternyata punya jalan keluar yang jauh lebih puitis daripada sekadar memberikan kita "bukti objektif".
Neurosains modern menemukan jaringan ajaib di otak kita yang disebut mirror neurons atau neuron cermin. Saat kita melihat seseorang tersenyum bahagia, atau menangis tersedu-sedu, sekelompok sel saraf di otak kita menyala dengan pola yang persis sama, seolah-olah kita yang sedang mengalaminya.
Otak kita ternyata tidak sekadar menebak perasaan orang lain. Melalui neuron cermin ini, otak kita secara literal mensimulasikan perasaan orang tersebut di dalam tubuh kita sendiri.
Ketidakmampuan kita membuktikan kesadaran orang lain bukanlah sebuah kelemahan evolusi. Justru, itulah alasan utama kenapa manusia dibekali dengan empati. Karena kita tidak bisa melihat langsung ke dalam isi hati manusia lain, kita dipaksa untuk berusaha merasakannya. Kita merangkul, kita mendengarkan, kita mencoba peduli.
Pada akhirnya, The Problem of Other Minds mungkin tidak akan pernah terpecahkan di atas kertas jurnal ilmiah mana pun. Dan mungkin, memang tidak perlu dipecahkan.
Besok, saat kita kembali duduk di kafe dan melihat orang asing yang sedang mengaduk kopinya, kita memang tidak punya rumus matematika untuk membuktikan bahwa dia "nyata" di dalam sana. Secara fisik, dia terkurung dalam realitasnya sendiri, persis seperti kita. Kita semua adalah pulau-pulau kesadaran yang terpisah oleh lautan daging dan tulang.
Namun, jarak eksistensial inilah yang membuat koneksi antar manusia menjadi sesuatu yang magis.
Setiap kali kita mengobrol hangat, tertawa bersama, atau sekadar bertukar senyum simpati dengan orang lain, kita sebenarnya sedang melakukan keajaiban kecil. Kita sedang membangun jembatan tak terlihat di antara dua ruang gelap yang terisolasi.
Mungkin saya dan teman-teman tidak bisa membuktikan secara ilmiah bahwa kita tidak sendirian. Tapi melalui empati, kita secara sadar memilih untuk tidak sendirian. Dan rasanya, pilihan itu sudah jauh lebih dari cukup.